Halal Bihalal 2024, PSQ mengusung Perspektif Perempuan dalam Dakwah

Dalam konteks dakwah Islam, imajinasi antara peran laki-laki dan perempuan seringkali diposisikan tidak setara. Meskipun diskursus soal kesetaraan antara laki-laki dan perempuan sudah lama dibicarakan akan tetapi realitas belum menunjukkan tanda ke arah yang lebih baik. Terbukti misalnya dalam konteks Cariustadz.id, masih kesulitan untuk mendorong para ustadzah agar ikut terlibat menyelesaikan problematika umat di ruang publik.

Untuk menggali lebih dalam tentang isu ini, acara “Halal Bihalal dan Multaqa 2024” mengangkat tema “Mengarusutamakan Perspektif Perempuan dalam Dakwah Islam”, yang diselenggarakan pada Senin, 29 April 2024. Acara ini bertujuan untuk menggali pemikiran dari para pakar serta menyuarakan pentingnya perspektif dan pengalaman perempuan dalam dakwah Islam.

Sesi Pertama: Al-Quran dan Cita Perempuan

Pada sesi pertama, Prof. Dr. M. Quraish Shihab dan Najelaa Shihab, M.Psi, memberikan pencerahan yang mendalam mengenai perspektif Islam terhadap perempuan. Prof. Quraish Shihab menyoroti bahwa Al-Quran tidak hanya menegaskan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga menekankan pentingnya peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu kutipannya, “Setiap ayat al-Quran yang menggunakan redaksi laki-laki itu termasuk juga untuk perempuan,” menggambarkan bahwa Islam mendorong kesetaraan gender.

Najelaa Shihab menggarisbawahi betapa pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan tugas domestik sebagai langkah awal dalam memperjuangkan kesetaraan gender. Kutipannya, “Langkah pertama untuk mengubah budaya dan pandangan masyarakat terkait kesetaraan laki-laki dan perempuan adalah ayah yang terlibat dalam pengasuhan dan tugas domestik,” memberikan pemahaman yang dalam akan peran vital keluarga dalam membentuk pandangan dan budaya seputar keadilan dan kesetaraan di masyarakat.

Sesi Kedua: Perempuan dan Dakwah Islam

Sesi kedua menghadirkan Dr. Ali Nurdin, M.A, Dr. Nur Rofiah, Bil.Uzm, dan Alissa Wahid, M.Psi, yang membahas peran perempuan dalam dakwah Islam. Dr. Ali Nurdin menyoroti perbedaan standar kesuksesan antara laki-laki dan perempuan, serta tantangan dalam mencapainya. Ia menekankan perlunya kolaborasi dalam menciptakan pemahaman yang lebih adil gender.

Alissa Wahid membawa perspektif yang praktis dengan menyoroti perlunya ruang publik yang inklusif terhadap pengalaman perempuan, seperti adanya fasilitas menyusui di tempat kerja. Dr. Nur Rofiah memperkenalkan tiga prinsip KUPI dalam sistem pengetahuan keagamaan yakni: Ma’ruf, Mubadalah, dan Keadilan Hakiki. Ketiga prinsip tersebut meniscayakan pemahaman agama yang adil antara laki-laki dan perempuan dalam setiap aspek kehidupan.

Perspektif dan Tinjauan

Melalui pemikiran yang disampaikan oleh para narasumber, ada beberapa poin penting yang dapat ditarik untuk dipertimbangkan lebih lanjut:

  1. Kesetaraan dalam Islam: Al-Quran menegaskan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Ini memperlihatkan bahwa Islam secara prinsipil memandang kedua jenis kelamin sebagai sama dalam mata Allah.
  2. Peran Keluarga dalam Pencapaian Kesetaraan: Peran keluarga, khususnya peran ayah dalam pengasuhan dan tugas domestik, sangat penting dalam membentuk budaya kesetaraan di dalam rumah tangga.
  3. Tantangan dalam Mencapai Kesetaraan: Tantangan dalam mencapai kesetaraan gender tidak hanya terletak pada pemahaman dan interpretasi, tetapi juga pada praktik di ruang publik, termasuk tempat kerja dan sistem pengetahuan keagamaan.
  4. Kolaborasi dan Afirmasi: Kolaborasi antara lembaga keagamaan, masyarakat, dan pemerintah sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesetaraan gender. Afirmasi terhadap peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan juga penting untuk memperkuat peran mereka dalam masyarakat.

Kesimpulan

Acara “Halal Bihalal dan Multaqa 2024” telah memberikan wadah yang sangat berharga untuk menggali pemikiran dan pandangan tentang peran perempuan dalam Islam. Melalui diskusi yang mendalam dan pemikiran yang terbuka, kita diingatkan akan pentingnya memperjuangkan perspeektif perempuan dalam segala aspek kehidupan, baik dalam ranah publik maupun domestik. Harapannya, acara ini akan menjadi pijakan bagi lebih banyak lagi inisiatif yang mempromosikan perspektif perempuan dalam Islam dan masyarakat pada umumnya.