Memahami Frasa “Membumikan Al-Quran”

Makna mudah yang saya pahami dari Membumikan Al-Qur’an adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai keseharian kita, mental kita dan pemandu kita. Misalnya kita sedang banyak problem atau masalah, maka solusi terdekat adalah tidak mengambil sikap yang memperparah keadaan dan menjadikannya tambah runyam. Bayangkan jika seseorang dalam keadaan frustasi, kemudian lari ke narkoba atau melampiaskan nafsunya dan atau meledakkan emosinya, maka akan timbul masalah baru yang susah diselesaikan.

Alhamdulillah, berkat binaan Al-Qur’an, kita semua sabar dan selalu mengingat panduan haq (kebenaran) sebagaimana umat ini dilatih menghafal dan menghayati surat Al-Ashr:

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ

Bisa dibilang separuh dari masalah atau syukur-syukur semuanya, menjadi hilang jika kita sabar dan menuju haq.

Dalam tataran sosial, peradaban di manapun kita berada, di komunitas manapun, Al Qur’an memandu kita agar kita selalu berkontribusi pada komunitas kita, baik saat duka maupun suka dan menahan emosi ketika kecewa dan mudah memaafkan jika tersakiti sebagaiman panduan dalam ayat 134 Ali Imran:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ

Bayangkan jika kita kecewa dan marah lalu menampar atau melakukan kejahatan yang sadis, maka selain kena pidana juga yang demikian tidak dibenarkan agama. Kebalikannya jika kita menahan emosi, memaafkan, maka kita terhormat dan diridai Allah dan rida inilah yang menjadi puncak keinginan seorang hamba. Sebab itu ketika Nabi saw dimintai nasehat seseorang, maka beliau menjawab: “kamu jangan mudah marah“ seorang itu minta tambahan nasehat dan diulang lagi jawaban “kamu jangan mudah marah.”

Semua prahara sosial kebanyakan dimulai dari meledakkan emosi secara membabi buta, dan emosi disebabkan, seringnya oleh kawan kita atau siapapun yang tidak berjasa pada kita. Sebab itu ihsan: berbuat baik, simpatik, berderma, saling memberi hadiah, saling menguntungkan, atau paling tidak, kedua belah pihak tidak saling merugikan dan tidak saling menghancurkan adalah pilar peradaban yang elegan dan tatanan sosial yang berkah dan kondusif.

Nabi saw bersabda “Hindarilah sifat kikir (baca: tidak memberi manfaat), sebab kikir itulah yang menghancurkan tatanan sosial orang-orang terdahulu.” Kebalikannya, sifat derma, sosial, berempati adalah solusi efektif dan diberkahi Allah swt. Ketika ada banyak PHK masal, atau sulitnya lapangan kerja atau transisi seseorang, selalu saja penolongnya adalah para dermawan. Sebab itu di antara sifat orang baik yang dianjurkan Allah di awal Mushaf Al Qur’an adalah

: “.. dan mereka yang menafkahkan sebagian hartanya “ Al-Baqarah ayat 3.

Terimakasih kepada Bapak Profesor Quraish Shihab (Abi Quraish) juga semua penggagas PSQ dan semua yang berkontribusi, juga semua umat Islam yang selalu menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan dalam hidupnya baik dalam hal aqidah maupun sosial dan mengajarkannya kepada sekelilingnya juga menjadikan peradaban unggulan di komunitasnya.

Al-Qur’an begitu mudah dipahami ketika mengkampanyakan kebenaran haqiqi. Betapa mudahnya mengawali dengan keesaan untuk mengunsurkan asal usul terciptanya alam oleh yang Maha Esa.

قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ (1) ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ (2) لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ (3) وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ (4)

Al-Qur’an pulalah yang mengajari kita tradisi, jika mengakui satu hal harus bisa membuktikannya. Allah Swt sebagai Tuhan yang absolut dan haqiqi, itu saja Berhujjah (Mengajak adu argumentasi dan adu membuktikan factual):

Inilah Aku Tuhanmu dan alam raya ini ciptaanKu, maka selainKu jika mengaku sebagai tuhan, mana ciptaan tandingannya.

هَٰذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِن دُونِهِ

Al Qur’an begitu mudahnya memahamkan kita, tiada sekutu bagiNya. Allah Swt menceritakan reputasinya sebagai pencipta langit dan bumi dan pengatur hujan, juga mengatur sumber rizki, lalu Allah tanya apakah ada tuhan selain Aku sebagai pencipta itu semua.

أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ

lihat ayat 60 – 64 An Naml

Yang terakhir tentang peradaban haq yang karena hidup di dunia, ada gesekan sosial yang terkadang ekstrim yang diantarannya bisa menghancurkan haq yang dibawa para Nabi. Di sini Islam juga mengatur secara elegan: Hanya boleh memerangi yang memerangi kita,

lihat Al-Baqarah Ayat 190:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ

“Perangi di jalan Allah mereka yang memerangi kamu.”

Juga dalam surat Al Hajj Ayat 39 :

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا

“Kamu diberi izin perang karena kamu diperangi, didzalimi, mau dihancurkan.”

Anda bisa membuat analogi sebagai bangsa Indonesia yang menemukan logika rasional saat kita dijajah oleh kolonial yang mau menghancurkan kita. Tentu melawan mereka dan perang terhadap mereka adalah lazim, rasional dan sikap heroik.

Tetapi dalam kondisi normal dan peradaban yang saling menghormati, maka kewajiban kita adalah saling baik dan menghormati sebagaimana dalam ayat 8 surat Al Mumtahinah:

Yang terjemahan artinya adalah: “Allah mencintai orang – orang yang berbuat baik dan adil termasuk kepada yang tidak seiman namun tidak merangi kita dan tidak mengusir kita.”

Semoga kita semua menjadikan Al Qur’an sebagai pemandu langkah–langkah kita sebagaimana doa–doa orang dulu di setiap membaca Al Qur’an:

اللهم اجْعَلِ الْقُرْآنَ لَناَ فِي الدُّنْياَ قَرِيْناً، وَفِي الْقَبْرِ مُؤْنِساً، وَفِي الْقِياَمَةِ شَفِيْعاً، وَعَلَى الصِّرَاطِ نُوْراً، وَإِلَى الْجَنَّةِ رَفِيْقاً، وَمِنَ النَّارِ سِتْراً وَحِجَاباً، وَإِلَى الْخَيْرَاتِ كُلِّهَا دَلِيْلاً وَإِماَماً، بِفَضْلِكَ وَجُوْدِكَ وَكَرَمِكَ يَا كَرِيْمُ

“Ya Allah, jadikan al-Quran kepada kami semasa hidup di dunia sebagai rakan, di kubur sebagai kawan bermanja, pada hari Kiamat sebagai pembantu, semasa di titian menjadi penyuluh, semasa menuju syurga sebagai pendamping, semasa ke neraka sebagai penghadang dan pendinding, dan semasa menuju kebaikan jadikan al-Quran itu kepada kami sebagai panduan dan ikutan. Dengan limpah kurnia, kemurahan dan kemualiaanMu Ya Allah Ya Karīm.” Amin Ya Rabb al-Alamin.

KH. Ahmad Baha’uddin Nursalim, Pengasuh Pesantren LP3iA Rembang dan Ustadz di Cariustadz.id

Tertarik mengundang KH. Ahmad Baha’uddin Nursalim? Silakan Klik disini