Lain-lain
DAFTAR AGENDA ]

Penerbit Jerman Batalkan Novel Honor-Killing

Tgl Pelaksanaan : 12/10/2009 - 12/10/2009
Lokasi : New York, AS

Sebuah penerbit buku di Jerman telah membatalkan novel tentang honor-killing (pembunuhan demi kehormatan) berlatar Islam. Pembatalan lantaran takut buku akan menyerang komunitas Muslim dan membuat ia dalam bahaya.

Liputan Kegiatan

Republika Newsroom (Senin, 12 Oktober 2009),

 

Sebuah penerbit buku di Jerman telah membatalkan novel tentang honor-killing (pembunuhan demi kehormatan) berlatar Islam. Pembatalan lantaran takut buku akan menyerang komunitas Muslim dan membuat ia dalam bahaya.

Kritikus menganggap itu adalah sikap pengecut, namun pihak lain mengatakan, penerbit hanya sekedar bertanggung jawab. Penerbit buku, yang berjudul 'To Whom Honor is Due' (Kepada Mereka yang Berhak atas Penghormatan) mengisyaratkan bahwa penarikan buku setelah sejumlah pakar tentang Islam memperingatkan beberapa teks dapat memicu pembalasan dari Muslim.

"Setelah kartun Muhammad, orang tahu bahwa mereka tak bisa mempublikasikan kalimat atau gambar yang melecehkan Islam tanpa mengharap ada risiko keamanan, ujar Felix Droste dari penerbit Droste Verlag, seperti yang dikutip surat kabar Jerman, Der Spiegel, pekan lalu.

Ia mengacu pada serial kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad yang diterbitkan di Denmark pada 2005. Langsung saja hal itu memicu kekerasan berdarah di penjuru dunia Muslim.

Kontroversi terbaru serupa datang pula dari penerbit Yale University Press, yang menolak mencetak kartun yang dipublikasikan di Denmark tersebut dalam buku yang mengulas detal kontroversi seputar isu tersebut.

Tak hanya itu, pada 2008 terjadi insiden sejenis, penerbit Random House menarik The Jewel of Medina, sebuah buku yang bercerita tentang para istri Nabi Muhammad. Lalu pula pada 2006, sebuah teater di Jerman membatalkan pertunjukan drama yang memiliki adegan Nabi Muhammd dipenggal.

Gabriele Brinkaman, pengarang 'To Whom Honor is Due' telah berkomentar atas pembatalan bukunya. "Itu merupakan skandal bagi penerbitan untuk memotong ekor di antara kedua kakinya. Ini bentuk antisipasi pengabaian," ujar wanita tersebut.

Namun, juru bicara penerbit Droste Verlag, Nora Tichy mengacu pada pernyataan perusahaan yang dipublikasikan pekan lalu, di mana pemilik berkata motivasi utama pembatalan didasarkan keinginan untuk menghormati semua agama--apakah itu Kristen, Islam atau Yahudi.

Felix Droste menyatakan ia masih berencana merilis sebuah buku yang melibatkan cerita pembunuhan demi kehormatan tahun depan. Hanya, itu tidak akan memuat teks kontroversial seperti yang tercantum pada buku yang dibatalkan di mana seorang karakter berkata "You can shove your Koran up your..."  (kamu dapat banting/dorong secara kasar Al Qur'an mu di atas...mu)

Kalimat tersebut, nilai direktur komunikasi Dewan Hubungan Amerika-Islam, Ibrahim Hooper, bakal menyerang Muslim. Terlepas ia sendiri lebih senang melihat buku tak diterbitkan, Ibrahim mengatakan Felix memilik setiap hak untuk mencetak dan melempar buku ke pasar.

"Itu menyerang, sangat nyata. Pertanyaannya, apakah mereka memiliki hak untuk menerbitkan, jawabannya, ya mereka berhak," ujar Ibrahim.

"Sekarang, mereka juga punya hak untuk tidak menerbitkan. Itu sesuatu yang sangat bergantung pada penerbit," kata dia. "Dan kami harap itu (keputusan-red) akan berdasar itikad baik dan penghormatan pada pihak lain dan bukan pada potensi kekerasan," imbuh Ibrahim

Toh, Nonie Darwis, pengarang buku
"Cruel and Usual Punishment: The Terrifying Global Implications of Islamic Law," mengatakan penerbit memiliki semua hak untuk takut. "Penerbit hanya realistis dalam hal ketakutan terhadap tindak balasan dari Muslim," ujar Nonie.

"Saya tidak bisa menyalahkan perusahaan penerbitan. Saya menyalahkan pemerintah Barat. Sistem legal dan polisi yang tidak melindungi non-Muslim Barat dari bahaya serangan Muslim di peradaban Barat," ujar dia.

"Saya kerap dibuat bergeleng kepala oleh Muslim yang diserang kritik tentang Islam tapi di saat bersamaan mengutuk, mendorong jihad dan kekerasan terhadap Yahudi, Kristen dan non-Muslim," kata Nonie. "Jika Muslim ingin dihormati seperti yang lain mereka harus menghilangkan banyak kecaman dan kekerasan terhadap yang lain,"

Namun Ibrahim, mengatakan kritik Nonie Darwis hanya melebihkan arti pembatalan buku. Ia tak setuju dengan pernyataan bahwa Islam adalah agama kekerasan.

"Ayolah, banyak bertebaran industri penyebar kebencian dan penghina Muslim, baik di internet dan radio. Mereka yang menangkap semua kesempatan untuk memotret Islam secara selip sebagai agama kekerasan. Ini hanya contoh lain," papar Ibrahim.

Ibrahim mengatakan setiap kekerasan yang dikhawatirkan pihak penerbit telah dilakukan oleh orang-orang yang salah memahami Islam. "Memang disayangkan ada banyak insiden di dunia yang salah menggunakan Islam sebagai justifikasi aksi tak benar. Itu sesuatu yang tengah kami hadapi pula," kata dia. "Namun itu tidak berarti, kita harus menerima pelecehan dan penghinaan dari penyebar kebencian terhadap Muslim," tegas Ibrahim.  foxnews/itz

©2003 pusat studi alquran