Lain-lain
DAFTAR AGENDA ]

Polisi Inggris Berjilbab Menuai Banyak Kecaman

Tgl Pelaksanaan : 06/08/2009 - 06/08/2009
Lokasi : London, Inggris

Tiga petugas polisi wanita di Sheffield, Inggris mengenakan pakaian muslimah termasuk jilbab dan burqa sebagai bagian dari peningkatan hubungan dengan komunitas Islam.

Liputan Kegiatan

Republika Newsroom (Kamis, 06 Agustus 2009),

 

Tiga petugas polisi wanita di Sheffield, Inggris mengenakan pakaian muslimah termasuk jilbab dan burqa sebagai bagian dari peningkatan hubungan dengan komunitas Islam.

Petugas polisi wanita yang mengenakan pakaian muslimah itu adalah bagian dari program berjudul “In Your Shoes” yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan dengan masyarakat dan merayakan keragaman, sebagaimana dilansir Daily Mail, Selasa (4/8) lalu.

"Latihan ini hanyalah salah satu dari sekian banyak kegiatan Kepolisian South Yorkshire yang telah direncanakan bersama dengan para pemuka dan masyarakat etnis minoritas, untuk mempererat kerjasama, menghargai keberagaman dan menggalang integritas, serta untuk menciptakan masyarakat yang lebih aman dan kompak," kata juru bicarak pihak kepolisian.

Ketiga polisi itu adalah Sersan Deb Leonard, Sersan Deb Pickering, dan Helen Turner. Ketiganya dari Police Community Support, dari Sheffield.

Mereka berkeliling kota Sheffield, pergi ke pusat perbelanjaan, dan mengunjungi tempat-tempat umum lainnya berbaur dengan komunitas muslimah.

Menuai Banyak Kritik
Seorang polisi senior menganggap, ”Ini konyol, orang-orang ingin melihat lebih banyak polisi berpatroli di jalan-jalan, bukan berdandan.”

Sid Cordle, dari Aliansi Masyarakat Kristen di Sheffield, Yorkshire, mengatakan, "Sebagaimana kita tahu, pakaian seperti itu adalah simbol penindasan terhadap wanita. Polisi seharusnya tidak mendukungnya. Jika mereka benar-benar ingin tahu apa yang dirasakan para wanita Muslim, mereka bisa lebih jauh belajar dengan pergi dan tinggal bersama mereka dan berinteraksi dengan mereka."

Matthew Elliott dari Aliansi Wajib Pajak geram terhadap apa yang ia sebut “guyonan yang dibenarkan secara politik” ini. Aliansi Wajib Pajak Inggris menyebut program tersebut sebagai sebuah “penyimpangan yang absurd”.

Pusat Kohesi Sosial, sebuah lembaga think tank yang berbasis di London dan mempelajari ekstremisme serta hubungan antara komunitas, mengatakan waktu yang ada lebih baik digunakan untuk menyelesaikan kasus kriminalitas.

Kepolisian sendiri membela program itu sebagai sebuah cara untuk memperkuat hubungan antara polisi dengan komunitas minoritas.

Sementara Sersan Leonard, salah satu dari petugas itu, mengaku dengan menjalani tugas tersebut ia mendapatkan “penghargaan dan pemahaman terhadap apa yang dialami perempuan Muslim ketika mereka tampil di depan umum dengan mengenakan pakaian yang sesuai dengan keyakinan mereka.”

Dikatakanya, mereka selalu diamat-amati oleh petugas keamanan ketika berkunjung ke toko, dan mereka juga diawasi ketika berada di jalan. Tapi, mereka tidak tahu pasti, apakah itu karena pakaian yang mereka kenakan atau semata karena terlalu memberikan perhatian atas keberadaan mereka.

"Hal seperti itulah yang selalu dihadapi dan dirasakan oleh para wanita Muslim dalam kehidupannya sehari-hari," kata dia menambahkan.

Isu mengenai pemakaian burqa masih merupakan isu yang sensitif di kalangan masyarakat Inggris. Mantan perdana menteri Tony Blair mengkritik baju itu sebagai sebuah “tanda pemisah”. Sementara Jack Straw, menteri keadilan negara, membuat kehebohan tiga tahun lalu ketika ia mengatakan telah meminta perempuan-perempuan Muslim membuka penutup wajahnya dalam pertemuan empat mata. ap/dm/taq
©2003 pusat studi alquran