[ DAFTAR AGENDA ]
Pesan dari Rumah Alquran
Tgl Pelaksanaan : 15/05/2007 - 15/05/2007 Lokasi : Jakarta, Indonesia
Sebuah pesan langsung menyapa begitu pengunjung memasuki ruang pamer Bayt Al-Qur'an, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Tercetak besar, terbingkai rapi, pesan itu mengingatkan umat Islam tentang Alquran sebagai petunjuk hidup.
Liputan Kegiatan
Republika (Selasa, 15 Mei 2007),
Sebuah pesan langsung menyapa begitu pengunjung memasuki ruang pamer Bayt Al-Qur'an, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Tercetak besar, terbingkai rapi, pesan itu mengingatkan umat Islam tentang Alquran sebagai petunjuk hidup. ''Setiap Muslim berusaha memelihara, mencintai dan mengamalkan kandungan isinya, menjaga otentisitas, dan menerima pesan yang dikandungnya ....''
Hanya ada dua museum Alquran bertaraf internasional di dunia. Satu terletak di Yaman. Satu lagi, itulah Bayt Al-Qur'an (Rumah Alquran) di TMII. Namun, pamor Rumah Alquran tampaknya redup. Masyarakat Indonesia, bahkan Jakarta, kurang mengenalnya. Kondisi museum ini, diakui pengelolanya, memprihatinkan karena menghadapi dua persoalan. Pertama, kurangnya sumber daya manusia (SDM) pengelola. Kedua, masalah klasik, yaitu dana.
Selama ini, kata Ahmad Yunani, petugas Bagian Kepegawaian dan Tata Usaha, Bayt Al-Qur'an belum mendapatkan anggaran dari pemerintah. Pengelolaan museum hanya mengandalkan bantuan dana dari Direktorat Penerangan Agama Islam, Departemen Agama, yang per tahunnya tak sampai satu miliar rupiah. ''Itu pun tak menentu,'' kata Ahmad kepada Republika, pekan lalu.
Dana itu hanya cukup untuk membayar listrik, honor karyawan, dan operasional museum. Alhasil, pengelola sulit untuk mengembangkan museum itu. Sementara untuk mendapat dana tambahan dari luar harus berhadapan dengan manajemen TMII. Sebab, lokasi Rumah Alquran berada di dalam TMII.
Museum tersebut memiliki 35 karyawan. Enam orang di antaranya berstatus pegawai negeri sipil (PNS) dan sisanya honorer. Sedangkan jumlah tenaga pemandu sebanyak lima orang. Bayt Al-Qur'an dibangun pada 1996. Museum ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 April 1997, bertepatan dengan ulang tahun ke-22 TMII. Bangunan megah bergaya Timur Tengah di atas lahan seluas dua hektare ini dirancang oleh arsitek Ahmad Nu'man.
Nu'man adalah arsitek perancang bangunan Masjid At-Tiin TMII serta bangunan Bosnia Islamic Center di Bosnia. Ide awal pendirian museum ini muncul saat Menteri Agama Tarmizi Taher berkunjung ke Bayt Al-Qur'an di Yaman. Saat itu ia berpikir Indonesia sebagai negara Muslim terbesar tentunya lebih layak punya museum seperti itu.
Pengunjung museum ini hanya sekitar 100 hingga 150 orang per hari. Dengan jumlah total sekitar 3.000 pengunjung dalam sebulan, tiket yang dikenakan hanya Rp 1.000 untuk anak-anak dan Rp 2.000 untuk dewasa. ''Pengunjung rata-rata tahu justru dari mulut ke mulut,'' kata Nurdin, petugas humas Bayt Al-Qur'an TMII.
Di museum ini terdapat koleksi Alquran berbagai jenis. Bahkan, Alquran terbesar di dunia yang berukuran 1,5 meter x 2 meter berada di museum ini. Alquran ini, kata Nurdin, biasanya menjadi primadona para pengunjung. ''Terutama pengunjung dari daerah yang kebanyakan menanyakan Alquran yang besar itu.''
Koleksi lainnya adalah Mushaf Istiqlal dengan ukuran panjang 120 cm, lebar 100 cm, dan tinggi 75 cm. Iluminasi tiap halaman dari mushaf ini bercorak ragam hias nusantara. Khas dari tiap provinsi. Selain itu, ada Alquran yang dibuat zaman Presiden Soekarno tahun 1948-1950.
Penggagasnya adalah presiden pertama itu. Koleksi lainnya adalah Mushaf Wonosobo yang ditulis dua orang santri Pesantren Asyiria, Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah, pimpinan KH Muntaha. Penulisnya Abdul Malik dan Hayatullah. Proses pembuatannya dengan tulis tangan selama 14 bulan, yakni dari 16 Oktober 1991 hingga 7 Desember 1992. Ukurannya 1,5 meter kali dua meter.
Ada juga kitab Alquran tertua, yakni Alquran La lino yang ditulis Kesultanan Bima pada 1731-1748. Alquran braille untuk para penyandang tunanetra juga terpajang di museum ini. Tak ketinggalan Mushaf Sunan Ampel dan kitab-kitab tauhid melengkapi koleksi.
Di belakang Rumah Alquran, terdapat Museum Istiqlal. Museum ini menampilkan hasil-hasil karya seniman Muslim Indonesia dan mancanegara. Ada juga Alquran yang diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Cina, Prancis, serta karya-karya seni rupa kontemporer, seni rupa tradisional dan lainnya.
Keunikan lainnya adalah di atas bangunan museum ini terdapat lekar. Yakni, ukiran besar bertuliskan ayat Alquran. Konon tulisan ayat Alquran ini bisa dibaca dari pesawat terbang oleh jamaah haji yang baru pulang dari Makkah saat hendak mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. ''Begitu turun dari pesawat, para jamaah diingatkan dengan Alquran,'' kata Nurdin.
Di antara nama-nama besar yang berkunjung ke museum ini, Nurdin mencatat salah satunya adalah Presiden Pakistan, Pervez Musharaf. Ia mengakui, pada awal-awal pembukaan museum ini, warga berbondong-bondong datang berkunjung. Tapi, hal itu kini tinggal kenangan.
Dilla (29 tahun), seorang pengunjung, mengungkapkan bahwa museum itu dari segi bangunan serta pajangannya bagus. ''Namun, bagaimana membuat orang tertarik untuk berkunjung, museum Alquran itu harus punya konsep biar menarik,'' kata pembina Rohis SMPN 247
Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, itu.
Ia mengaku telah tiga kali berkunjung ke museum tersebut. Saat ditemui di area museum itu, Dilla sedang bersama beberapa anak didiknya. Ia mengaku tahu museum itu saat aktif di remaja masjid. Maryati (14), siswa kelas 2 SMPN 247, mengaku baru pertama kali berkunjung. Ia senang bisa melihat-lihat Alquran berbagai jenis. ''Kayaknya kita jadi lebih mencintai Alquran,'' katanya.
|