[ DAFTAR AGENDA ]
Halaqah Tafsir bersama Ustadz Muslim Nasution
Tgl Pelaksanaan : 24/02/2010 - 24/02/2010 Lokasi : Pesantren Bayt al-Quran, dpn lapangan Pdcabe
Untuk pertemuan ke-8 pada tahun 2010 ini, Halaqah Tafsir akan mengangkat tema Tafsir Tahlili tentang "Menghormati Ka'bah sebagai Sokoguru Kehidupan Manusia (QS. Al-Maidah: 94-100)". Pada kesempatan kali ini insya Allah akan diisi oleh Ustadz Muslim Nasution sebagai narasumber. Seperti biasa, acara dimulai dari jam 10.00 sampai 12.00 WIB, di Pesantren Bayt al-Quran PSQ, Perumahan Villa Bukit Raya No. 100, samping Pom Bensin Pertamina depan Lapangan Terbang Pondok Cabe, Ciputat.
Rencananya, akan dihadiri para peserta dari beberapa Majlis Ta'lim sekitar Ciputat, di mana sebagian merupakan peserta lama sedangkan sebagian lagi peserta baru yang diundang khusus oleh panitia atau datang sendiri.
Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi Wafa' di telp. 021-97943494, atau Edi Junaedi di telp: 021-7421661, faks: 021-7421822, email: info@psq.or.id.
Liputan Kegiatan
Ciputat (24/02/2010), Menghormati Ka'bah sebagai Sokoguru Kehidupan Manusia, adalah tema yang coba dikupas pada Halaqah Tafsir edisi ke-8 kali ini. Menghadirkan Prof. DR. Muslim Nasution, MA., seorang cendekiawan muslim sekaligus praktisi haji yang sudah puluhan tahun memandu jamaah berangkat haji.
Menyitir QS. Al-Maidah, 97, DR. Muslim Nasution menerangkan bahwa Allah menjadikan Ka’bah sebagai ‘qiyaaman li al-naas’, ditafsirkan sebagai ‘maa yaquumu bihi amr al-naas’ atau Ka’bah sebagai tulang-punggung, dasar atau sokoguru kehidupan manusia. Dan hal ini dapat dibagi ke dalam dua dimensi; Ka’bah sebagai landasan moral-spiritual serta Ka’bah sebagai tulang-punggung kehidupan sosial-material.
Pertama, sebagai landasan spiritualitas, Ka’bah menjadi pusat umat Islam sebagai kiblat dalam menunaikan shalat dan ibadah haji. Secara vertikal hubungan makhluq-khaliq membutuhkan simbol transendental dan Ka’bah berada pada posisi itu. Semua gerak-laku beribadah ditujukan kepada Allah dan disatukan pada arah yang sama: Ka’bah. Dalam haji nilai ibadah juga bersifat horisontal, dimana ada ketentuan-ketentuan seperti larangan membunuh binatang, mencabut tumbuhan dan lain-lain. Secara horisontal haji mengedepankan tatanan perilaku yang kemudian disebut juga etika atau moral. Dengan demikian, Ka’bah sebagai pusatnya, shalat dan haji sebagai ibadahnya dikatakan menjadi landasan kehidupan dalam dimensi moral-spiritual. Moral dalam hubungan horisontal sesama makhluq dan spiritual dalam hubungan vertikal khaliq-makhluq.
Kedua, membahas Ka’bah berarti bercerita sejarah. Mekkah dulu adalah negeri yang tandus lagi gersang. Tak ada hewan dan tumbuhan. Yang ada hanya hamparan padang pasir yang kering. Maka pada saat Nabi Ibrahim as. memulai tradisi haji, saat itu mulailah terjadi proses pertukaran budaya dari negeri-negeri lain diluar Mekkah. Dan Mekkah menjadi pusat pertemuan budaya-budaya itu. Implikasinya adalah masyarakat sekitar Ka’bah menjadi masyarakat yang makmur. Hal ini berlangsung sampai sekarang. Haji menjadi salah satu penghasil devisa terbesar Arab Saudi saat ini. (Afdhal)
|